Leksmono Suryo Putranto, Jadi Profesor karena Didikan Ibu dan ‘Doa’ Kakek

Jakarta – Leksmono Suryo Putranto dikukuhkan menjadi guru besar tetap ilmu transportasi dan rekayasa lalu lintas dari Fakultas Teknik Universitas Tarumanegara hari ini.

Ternyata ada ‘doa’ sang kakek dan didikan ibunda yang membuatnya bisa menjadi sekarang ini.

“Dulu sewaktu saya masih kecil sekitar tahun 1950-an, kakek saya bilang kalau wajah ini mirip seperti guru besarnya di ITB. Mungkin seperti doa, saya sekarang berhasil mencapai posisi ini. Karena kemiripan yang dia katakan itu lah, saya jadi terinspirasi dan terpacu ingin menjadi profesor,” ungkap Leksmono penuh haru sambil sesekali menyeka air mata yang membasahi pipi.

Hal itu disampaikannya usai menyampaikan orasi ilmiahnya bertajuk ‘Transportasi Perkotaan yang Berkeselamatan dan Berkelanjutan’, Selasa (1/4/2014).

Orasi itu dibacakan dalam acara Pengukuhan Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Transportasi/Rekayasa Lalu Lintas Fakultas Teknik Universitas Tarumanegara yang berlokasi di Auditorium Gedung M Kampus I Universitas Tarumanagara, Jl S Parman no 1, Jakarta Barat.

Sontak, hadirin yang hadir pun juga terlihat menghayati kisah itu. Beberapa hadirin tampak berkaca-kaca matanya. Leksmono juga mengungkapkan peran besar ibundanya yang mendidik untuk terbiasa meneliti.

“Saya bersyukur memiliki ibu yang sejak kecil selalu mendidik saya untuk meneliti. Ya, saya dibiasakan meneliti apa pun oleh ibu saya sejak kecil. Sehingga, ketika menjadi mahasiswa pun saya terbiasa meneliti hingga sekarang,” imbuh pria berkacamata yang sehari-hari aktif mengajar berbagai mata kuliah di bidang lalu lintas, angkutan umum dan transportasi ini.

Usai prosesi pengukuhan, Leksmono bercerita kepada detikcom bila dirinya juga baru terpilih sebagai anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta. Dia tidak merasa terbebani, sebaliknya merasa senang karena dapat menyumbangkan ide dan suaranya kepada Pemprov DKI seputar transportasi ibu kota.

“Kebetulan saya juga baru diangkat jadi Dewan Transportasi DKI sehingga bisa memberikan masukan kepada Pemprov DKI,” ujar ayah dari tiga anak laki-laki ini.

“Apa rencana ke depan setelah ditetapkan menjadi guru besar?” tanya wartawan.

“Terus berkarya di bidang transportasi dan berkontribusi terhadap khususnya masalah transportasi di perkotaan,” jawabnya dengan tegas dan mantab.

Pria kelahiran Jakarta, 4 Maret 1966 ini sudah banyak menelurkan buah karya berupa publikasi dan buku ajar (diktat). Terhitung ada 66 publikasi berbahasa Indonesia dan Inggris dan 4 buku bahan ajar yang telah diterbitkannya.

Di samping itu, Leksmono juga memperoleh penghargaan akademik bergengsi selama dirinya meniti karir. Sebut saja, penghargaan Dosen Berprestasi I Kopertis Wilayah III pada 1998 dan Dosen Berprestasi Universitas Tarumanegara tahun 2012 menjadi buktinya.

Leksmono menamatkan pendidikan S1 di Fakultas Teknik Sipil Universitas Indonesia dan melanjutkan studi magister di bidang sistem dan teknik jalan raya di Institut Teknologi Bandung (ITB). Gelar Doktornya berhasil diraih dari Institute for Transport Studies, University of Leeds, Inggris pada 2004.

Untuk melengkapi gelar akademinya, tepat hari ini, Selasa (1/4/2014) suami dari Tien Sapariyah dikukuhkan sebagai guru besar tetap Universitas Tarumanegara (Untar). Dengan penuh wibawa, Leksmono membacakan orasi ilmiahnya yang berjudul ‘Transportasi Perkotaan yang Berkeselamatan dan Berkelanjutan’ di hadapan senat guru besar Untar.

(nwk/gah)

SUMBER : http://news.detik.com/berita/2542565/leksmono-suryo-putranto-jadi-profesor-karena-didikan-ibu-dan-doa-kakek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *